Info Lengkap Tentang Budidaya Ikan Sidat Indonesia

20150628

Budidaya Ikan Sidat Dengan Kolam Terpal Menguntungkan

Halali Sahri No comments
Ikan sidat, mungkin belum banyak yang mengenal jenis ikan ini. Ikan sidat ini merupakan adalah salah satu komoditas perikanan yang paling banyak di cari di Jepang. Ikan sidat di Jepang disebut unagi atau udanon. Biasanya dalam anime digambarkan sebagai ikan raksasa. Namun faktanya Jepang sendiri tidak mampu memenuhi kebutuhan ikan sidat untuk negaranya karena hanya mampu memproduksi sekitar 30% saja. Untuk 70% kebutuhan ikan sidat mereka mendatangkan dari negara-negara lain seperti slaah satunya Indonesia.

budidaya ikan sidat menguntungkan

Saat ini telah banyak pengusaha yang mencoba peruntungan di bisnis budidaya ikan sidat dengan menggunakan media kolam terpal. Permintaan ikan sidat yang cukup tinggi membuat harga ikan sidat di Indonesia mengalami kelonjakan. Tentu saja memberikan prospek cerah bagi para petani Indonesia karena budidaya ikan sidat ini bisa dilakukan di kolam tawar atau menggunakan media terpal layaknya budidaya ikan lele.

Benar saja, bagi anda yang tertarik untuk memulai budidaya ikan sidat ini anda bisa memulainya dengan membuat kolam terpal. Dengan kolam terpal anda bisa menghemat penggunaan lahan sehingga dengan lahan yang kecil anda tetap bisda memaksimalkan hasil budidaya ikan sidat ini. Berikut ini adalah spesifikasi minimal yang bisa anda terapkan dalam membuat kolam terpal untuk budidaya ikan sidat:

  1. Ukuran kolam terpal 2 x 7 x 0.7
  2. Air dengan kedalaman 40cm
  3. Menggunakan mesin pompa air kolam utuk membuat air mengalir
  4. Menambahkan oksigen dengan pompa udara 12 lubang


Adapun pakan dari ikan sidat ini adalah:

  1. Pelet ukuran 1 ml dengan protein + 40% dengan harga Rp. 18.000/kg.
  2. Udang hidup
  3. Kepiting Hidup
  4. Cacing Tanah
Jika anda ingin mengincar kualitas ekspor ke luar negeri seperti taiwan atau Jepang maka anda memerlukan waktu budidaya lebih kurang selama 2 tahun. Namun untuk pasar dalam negeri bisa langsung dipanen dalam jangka waktu budidaya selama 1 tahun atau dengan ukuran 1,5 hingga 2 kg.

Dengan harga yang sangat tinggi tentu tidak heran jika perawatan budidaya ikan sidat ini memerlukan biaya yang cukup tinggi. Untuk pasar lokal sendiir 1 kg ikan sidat ini dihargai hingga 1.7 juta rupiah. Sedangkan untuk ikan sidat dengan kualitas pasar luar negeri bisa mencapai harga 70 juta rupiah.

Untuk bibit sendiri hingga saat ini belum ada tekhnologi yang mampu mengembangbiakan ikan sidat, sehingga harus menunggu proses alami dari ikan sidat itu sendiri. Biasanya bibit ikan sidat ini dapat diperoleh dari agen ikan sidat dengan harga 500 hingga 1000 rupiah per ekor atau Rp. 350.000 per kg dengan isi bibit 30-40 ekor (30gr/ekor).

Bagaimana tertarik menekuni bisnis budidaya ikan sidat ini?

Incoming search terms:

src http://www.matapencaharian.com/budidaya-ikan-sidat-dengan-kolam-terpal-menguntungkan.html

20140410

Lengkap Cara Budidaya Ikan Sidat

Halali Sahri No comments
Ikan Sidat (anguilla bicolor), termasuk familiAnguillidae, ordo Apodes. Di Indonesia diperkirakan paling sedikit terdapat 5 (lima) jenis Ikan Sidat, yaitu : Anguilla encentralis, A. bicolor bicolor, A. borneonsis, A. Bicolor Pacifica, dan A. celebensis. Ikan Sidat mungkin tidak dikenal oleh banyak orang di sini. Tapi, di berbagai negara ikan sidat jadi makanan primadona yang harganya sangat mahal.

Permintaan ekspor sidat terus meningkat. Harga jualnya juga mencengangkan. Sayangnya, teknik pendederan dan pembesaran yang menjadi kunci dihasilkannya sidat berkualitas dan layak ekspor belum banyak dikuasai.

Ikan sidat adalah sejenis belut, namun bentuknya lebih panjang dan besar. Ada yang mencapai 50 cm. Memang tidak enak dilihat. Tapi siapa sangka, konsumen asing menganggap cita rasa ikan sidat enak dan memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kalau di restoran Jepang, ikan ini sebutannya Unagi.

Kandungan vitamin A mencapai 4.700 IU/100 gram, sedangkan hati ikan sidat lebih tinggi lagi, yaitu15.000 IU/100 gram. Lebih tinggi dari kandungan vitamin A mentega yang hanya mencapai 1.900 IU/100 gram.

Bahkan kandungan DHA ikan sidat 1.337 mg/100 gram mengalahkan ikan salmon yang hanya tercatat 820 mg/100 gram atau tenggiri 748 mg/100 gram.

Sementara kandungan EPA ikan sidat mencapai 742 mg/100 gram, jauh di atas ikan salmon yang hanya 492 mg/100 gram dan tenggiri yang hanya 409 mg/100 gram.

Teknologi budi daya masih baru di Indonesia. Budi daya ikan sidat di Indonesia baru ditemukan sekitar tahun 2007 oleh Satuan Kerja Tambak Pandu Karawang, yang merupakan UPT Ditjen Perikanan Budi Daya, Departemen Kelautan dan Perikanan. Padahal ikan sidat sudah cukup lama dibudidayakan di Jepang dan Thailand. Asal tahu saja, pengembangan budi daya kedua negara menggunakan benih dari Indonesia.
“Melihat permintaan pasar dunia yang sangat besar mendorong kami untuk melakukan penelitian budi daya ikan sidat,”

Ikan Sidat tumbuh di perairan tawar (sungai dan danau) hingga mencapai dewasa, setelah itu Ikan Sidat dewasa beruaya ke laut dalam untuk melakukan reproduksi. Larva hasil pemijahan akan berkembang, dan secara berangsur-angsur terbawa arus ke perairan pantai. Ikan Sidat yang telah mencapai stadia elver (glass eel) akan beruaya dari perairan laut ke perairan tawar melalui muara sungai.

Harga ikan memang sangat menggiurkan. Harga di tingkat petani ikan sidat untuk elver dengan harga jual antara Rp. 250.000/kg. Untuk ukuran 10-20 gram berkisar antara Rp 20.000-Rp 40.000/kg, sedangkan ukuran konsumsi >500 gram untuk jenis Anguilla bicolor pada pasar lokal rata-rata Rp 75.000/kg; jenis Anguilla marmorata Rp 125.000-Rp 175.000/kg.

Larva Sidat (elver) berhubungan dengan musim. Diperkirakan larva Ikan Sidat dimulai pada awal musim hujan, akan tetapi pada musim tersebut faktor arus sungai dan keadaan bulan sangat mempengaruhi intensitas ruayanya.
Ikan Sidat termasuk ikan karnivora. Di perairan umum Ikan Sidat memakan berbagai jenis hewan, khususnya organisme benthik seperti crustacea (udang dan kepiting), polichatea (cacing, larva chironomus dan bivalva serta gastropods). Aktivitas makan Ikan Sidat umumnya pada malam hari (nokturnal).

Ikan Sidat telah dibudidayakan secara intensif di Eropa khususnya di Norwegia, Jerman dan Belanda serta Asia, yaitu : Jepang, Taiwan dan China daratan. Di negara-negara lain seperti Australia, Indonesia dan beberapa negara Eropa dan Afrika Barat umumnya produksi Ikan Sidat masih mengandalkan dari hasil penangkapan di alam.. Ikan Sidat dapat dibudidayakan di dalam ruangan tertutup (indoor) dan di luar ruangan (outdoor). Di Indonesia dengan suhu lingkungan yang relatif konstan sepanjang tahun maka pemeliharaan Ikan Sidat dapat dilakukan di luar ruangan (out door).

Secara praktis Ikan Sidat dapat dibudidayakan di kolam tanah berdinding bambu, kolam beton (bak beton), pen dan keramba faring apung. Apa pun jenis wadah yang digunakan dalam budidaya Ikan Sidat yang hamus diperhatikan adalah bagaimana mencegah lolosnya ikan dari media budidaya.

Lingkungan Perairan yang Baik untuk Budidaya Ikan Sidat

a. Suhu.
Pada pemeliharaan benih Ikan Sidat lokal, A. bicolor bicolor, suhu terbaik untuk memacu pertumbuhan adalah 29°C.

b. Salinitas.
Pada pemeliharaan Ikan Sidat lokal.,, A. bicolor bicolor (elver), salinitas yang dapat memberikan pertumbuhan yang baik adalah 6 – 7 ppt.

c. Oksigen Terlarut.
Kandungan oksigen minimal yang dapat ditolelir oleh Ikan Sidat berkisar antara 0,5 – 2,5 ppm.

d. pH.
pH optimal untuk pertumbuhan Ikan Sidat adalah 7 – 8.

e. Amonia (N H3- N) dan Nitrit (NO2-N)
Pada konsentrasi amonia 20 ppm sebagian Ikan Sidat yang dipelihara mengalami methemoglobinemie dan pada konsentrasi 30 – 40 ppm seluruh Ikan Sidat mengalami methemoglobinemie.

Kebutuhan Nutrien
Seperti halnya jenis ikan-ikan lain, Ikan Sidat membutuhkan zat gizi berupa protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral.
Kadar protein pakan optimal adalah 45% untuk ikan bestir (juvenil) dan sekitar 50% untuk ikan kecil (fingerling).

Budidaya Ikan Sidat Pada Jaring Apung

a. Jaring Apung.
Satu unit jaring apung memiliki empat kolam berukuran 7 x 7 m, dengan jaring berukuran 7 x 7 x 2,5 m dan mata jaring 2,5 inchi. Untuk menghindari lolosnya ikan, disekeliling tepian kolam bagian atas diberi penutup dari hapa dengan lebar 60 cm.

b. Benih Ikan Sidat.
Benih Ikan Sidat (Anguilla bicolor) berbobot 15 – 20 gram per ekor dengan panjang 20-30 cm.. Benih Ikan Sidat diperoleh dari Pelabuhan Ratu hasil tangkapan nelayan di perairan umum.

c. Padat Penebaran.
Setiap kolam ditebar 100 kg benih Ikan Sidat.

d. Pakan.
Pakan yang diberikan adalah pakan buatan berbentuk pasta dengan kandungan :
¦ Protein 47,93%
¦ Lemak 10,03%
¦ Seratkasar 8,00%
¦ BETN 8,32%
¦ Abu 25,71%
Pakan diberikan sebanyak 3% dari berat total ikan Konvensi pakan sebesar 1,96.
Dengan konvensi tersebut akan diperoleh laju perturnbuhan
rata-rata 1,46`% dengan mortalitas 9,64 %.

e. Masa Pemeliharaan dan Panen.
Pemeliharaan Ikan Sidat pada kolam keramba jaring apung selama 7 – 8 bulan, dan masa. panen secara bertahap dapat dimulai pada masa pemeliharaan 4 bulan.
Ukuran Ikan Sidat yang, dipanen dapat – mencapai ukuran. konsumsi yaitu 180 – 200 gram per ekor.

Pemeliharaan ikan Sidat pada kolam keramba jaring apung merupakan salah satu alternatif dalam rangka penganekaragaman budidaya ikan pada kolam keramba jaring apung. Namun dalam penerapannya masih perlu diperhatikan kondisi serta kualitas perairan umum yang dipergunakan.

Sumber : http://carabudidaya.com/cara-budidaya-ikan-sidat/

Kenapa Bayi Sidat / Glass eel Tubuhnya Transparan?

Halali Sahri No comments
Ketika mendapati bayi sidat yang tertangkap dimuara kita bisa melihatnya secara jelas detail tubuhnya yang masih transparan, saat glass eel berumur lebih dari tiga hari setelah ditangkap maka pigmen tubuhnya akan berubah dan menjadi berwarna, dan ini lah alasannya kenapa glass eel  mempunyai tubuh yang transparan.

Alasan Pertama, Sidat Merupakan tipe ikan yang katadromous yaitu besar di air tawar dan beruaya ke laut ketika akan memijah, setelah memijah induknya akan mati sehingga anak-anak sidat atau glass eel ditinggalkan tanpa perlindungan dari sang induk. Oleh karena itu glass eel ini akan mencoba bertahan hidup sendiri di laut dan segera berpindah mencari muara.

Alasan Kedua, Bayi Sidat Atau glass eel ini cenderung bergerak pasif karena kemampuan berenangnya masih rendah dan sangat terbatas maka si glass eel ini akan mencari daerah yang arusnya kecil seperti dipinggiran muara dan mengikuti arus pasang surut, sehingga menjadi ikan yang mudah menjadi buruan predator alam.

Alasan Ketiga, Predator di lautan sangat banyak sehingga salah satu mekanisme pertahanan dirinya adalah menyamarkan tubuhnya dengan lingkungan sekitar, Dengan tubuh glass eel yang tipis dan transparan, (ditambah dengan aktivitasnya yang nokturnal - beraktivitas pada malam hari) maka larva glass eel tersebut menjadi sulit dilihat oleh predatornya. Dengan demikian resiko dimangsa predator berkurang.

larva sidat atau glass eel yang transparan tersebut banyak ditemui pada ikan-ikan yang memijah di laut dan dewasanya bermigrasi ke sungai / air payau / perairan tawar. Saat di laut harus bertahan hidup dengan menyamarkan diri dengan lingkungannya sehingga menjadi tersamar dan tidak terlihat predator. Baru setelah dewasa dan masuk air tawar / air payau, pigmen berkembang. pada saat itu kondisi tubuh sudah bisa lebih aktif bergerak dan menyelamatkan diri saat ada predator. Semoga bermanfaat (berbagai sumber)

Merawat Ikan Sidat Yang Sakit

Halali Sahri No comments
Meskipun ikan sidat adalah ikan yang kuat bertahan hidup tetapi kita pasti pernah melihat ikan sidat yang kurang sehat, sakit, luka-luka atau kurang bergairah karena terlalu lemah tubuhnya. Luka ditubuh ikan sidat bisa disebabkan karena banyak factor, ketika sidat tidak mau makan lama kelamaan ikan sidat ini akan menggigit temannya sendiri hingga akhirnya berkelahi dengan hasil banyak luka bekas gigitan ditubuh sidat.

Cara untuk mengobati atau merawat sidat yang sakit atau luka-luka karena bekas gigitan atau tergores benda tajam hingga kelihatan berdarah ditubuhnya sidat bisa menggunakan alternatif pengobatan sebagai berikut :
  1. Obat PK bisa dibeli diapotek secukupnya 1 pack saja (warnanya ungu)
  2. Siapkan ember plastik kira-kira ukuran 2 -4  liter air lalu tuangkan PK kedalamnya 1-2 gram sampai warnanya ungu sedang tidak pekat.
  3. Ambil sidat yang luka dan masukan kedalam ember tersebut kira2 3-5 menit lalu ambil   kembali masukan kembali kedalam kolam.
  4. Kalau bisa pisahkan sidat yang luka dari sidat yang sehat, guna bisa monitor tingkat  kesembuhannya.


Sementara untuk ikan sidat yang terkena jamur di tubuhnya atau “white spot” cirinya adalah ikan sidat terlihat berbeda warna dibagian tertentu semacam panu berwarna putih ditubuh ikan sidat, cara untuk mengatasinya salah satun caraya adalah dengan menabur garam secukupnya agar air sedikit payau.

Demikian postingan kali ini tentang cara merawat sidat yang sakit, semoga bisa menambah pengetahuan kita dan bermanfaat juga buat kita. (Dari berbagai sumber)

20140401

Cara Pembesaran Dan Pengolahan Sidat

Halali Sahri 1 comment
Pembesaran ikan sidat, sidat adalah sejenis belut tapi lebih mendekati ikan dari nama latinnya saja sudah disebut Anguilla Sp. memang bagi awam agak sulit mencarinya namun bagi masyarakat jawa disebut Moa di Betawi, Lubang di Sunda nah kalo di jawa tengah kebanyakan di ikan sidat ini keramatkan karena bentuknya yang aneh dan cuma mau hidup di air yang bersih seperti dekat mata air, danau dan muara di pantai selatan.

Perawatan ikan sidat tidak sulit kok, kalau kita baru beli ukuran sidat konsumsi biasanya kita pelihara dulu di kolam yang bersih, puasakan mereka sampai 7 hari, kasih makan cacing sutra atau tubifex, trus campuran gilingan daging siput dengan pelet pakan lele lalu perlahan setelah biasa selama 2 minggu bisa dikasih pelet untuk lele dumbo.

Dalam jangka wakty 3-4 bulan ukuran ikan sidat sudah gemuk sekali, kalau dari ukuran glass eel atau anakan sampai masa panen konsumsi dengan berat 250-300 gram makan waktu 6 bulanan saja tapi kalau mau ukuran kualitas expor mulai dari 500g sampai 1 kg lebih harus tunggu sampai 8-12 bulanan, mereka benar benar menakjubkan karena dagingnya tebal sekali mirip ikan patin dan rasanya seperti ikan salmon tetapi tidak amis.

Nah kalo untuk sidat konsumsi sebaiknya sebelum disembelih harus di puasakan sampai 4 hari dulu untuk buang lendir yang bau lumpur dan biar isi perutnya kosong.. kalau mau di sembelih rendam mereka didalam air es batu sampai mereka tidur atau bahkan jantung mereka tidak berdetak lagi baru sembelih mereka. Tapi jangan di potong lehernya seperti umumnya belut lumpur atau lindung. Sebaiknya di potong bagian punggung memanjang dari pangkal kepala sampai ujung ekor atau di fillet yang rapih dan tulang punggungnya di buang juga, keluarkan jeroan jangan sampai pecah. 

uniknya mereka tidak punya tulang rusuk jadi mudah sekali di olah dan tidak berduri, cara masaknya di panggang dulu di atas bara api selama 10 menit kemudian di kukus selama 5 menit lalu di bumbui sesuka hati dan di bakar lagi diatas bera api selama 7 menit nah sidat atau unagi (Jepang) siap disantap.
(Sumber: http://mutiarasani.blogspot.com/2007/09/ikan-sidat-anguilla-bicolor.html)

Efektifitas Lendir Ikan Sidat dapat Menghambat Penyakit Tipes

Halali Sahri No comments
Pernahkan anda menangkap ikan sidat? Kenapa Ikan sidat licin sekali ketika dipegang? Nah ternyata dikulit ikan sidat terdapat lendir yang sekaligus sebagai pelindung bagi sidat itu sendiri, lendir dalam tubuh ikan sidat akan berkurang karena sering disentuh, stress, atau terkena penyakit maka ketahan tubuh sidat akan menurun drastis.

Lendir pada ikan sidat sekarang mampu untuk dijadikan obat sebagai anti bakteri, dari berbagai penyakit ternyata Angka kejadian penyakit tipes di Indonesia rata-rata 900.000 kasus pertahun, angka kematian lebih dari 20.000 dimana 90% kasus terjadi pada usia 3-19 tahun. Penyebaran penyakit ini diperantarai makanan atau air yang terkontaminasi oleh bakteri salmonella thypii. Telah dilakukan penelitian bahwa lendir atau mucus pada kulit ikan sidat dapat berfungsi sebagai antibakteri kuat (Ebran et al., 2000), pertahanan terhadap infeksi bakteri (Aranishi, 2000). 

Spesies ikan sidat (Anguilla bicolor pasifica) banyak terdapat di perairan payau yang berada di sekitar Samudra Hindia (di sebelah barat Pulau Sumatera dan selatan Pulau Jawa). Kabupaten Cilacap memiliki wilayah perairan payau yang menjadi hutan bakau yaitu di Anakan. Penelitian ini dilakukan secara praklinik untuk mengetahui pengaruh lendir sidat terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri salmonella thypii.

Desain penelitian pada penelitian ini adalah eksperimen murni. Penelitian eksperimental adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol. Penelitian ini dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok kontrol normal, kontrol positif,  dan kelompok uji dengan menggunakan lendir sidat. Pengamatan uji aktifitas lendir sidat dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella Thypii diukur dengan cara pengukuran diameter zona penghambatan.

Kelompok   I      : media + bakteri diberi aquadest sebagai kontrol normal. Kelompok II    : media + bakteri  diberi obat antimikroba (kloramfenikol) sebagai  kontrol    positif. Kelompok III: media + bakteri diberi lendir sidat (Uji). Hasil percobaan menunjukkan bahwa penghambatan terbesar lendir sidat terhadap bakteri Salmonella thypii adalah 44,05% dan penghambatan terendah sebesar 34,67% dengan rata-rata penghambatan 41, 08% dibandingkan dengan penghambatan kontrol positif kloramfenikol. (sumber: STIKES Al-Irsyad Al-Islamiyyah Cilacap)

Cara Pembuatan Pelet Ikan dari Cacing Tanah

Halali Sahri No comments
Cacing tanah merupakan hewan yang berpotensi menjadi bahan makanan. sumber protein tinggi. Budidaya cacing tanah relatif mudah, efisien dan murah, dimana untuk membudidayakan cacing ini hanya dibutuhkan suatu media berupa kompos (dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk menguraikan sampah organik).

Sisa dan media ini selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman, karena penguraian sampah organik oleh cacing tanah banyak menghasilkan unsur hara yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman. Berkaitan dengan potensi cacing tanah sebagai bahan makanan sumber protein tinggi, pemanfaatannya sangat beragam seperti:

  • Untuk bahan campuran kosmetika.
  • Sebagai makanan suplemen kesehatan.
  • Bahan obat-obatan terutama yang menyangkut dengan antibiotik.
  • Sebagai pakan ternak.

Komposisi nutrisi Lumbricus rubelius adalah sebagai berikut:

  • Protein Kasar : 60 - 72%
  • Lemak : 7 - 10%
  • Abu : 8 - 10%
  • Energi :900 - 4100 kalori/gram.

Dengan memperhatikan komposisi nutrisinya, maka di dunia perikanan,cacing tanah ini berpotensi untuk dijadikan sebagai bahan ransum makanan ikan

Seperti diketahui bahwa untuk pertumbuhan ikan, sangat ditentukan oleh kandungan protein dalam makanannya. Mengingat kandungan protein cacing yang cukup tinggi (lebih tinggi dari ikan dan daging) serta komposisi asam amino esensial yang lengkap sehingga, dapat diperkirakan bila cacing tanah ini dapat dimakan oleh ikan akan dapat memacu pertumbuhan dan menghasilkan ikan yang sehat serta tahan terhadap serangan penyakit


ALAT, BAHAN, DAN METODE
Peralatan yang digunakan adalah:
* Alat Penggiling Tepung
* Alat Penggiling Daging
* Baskom

Bahan:
a. Tepung Cacing : 41%
b. Telur ayam : 20%
c. Terigu : 14%
d. Dedak : 18 %
e. Kanji :1%

Untuk membuat tepung cacing, langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :

  • Cacing segar dipisahkan dari medianya.
  • Cacing segar ini di cuci/bilas dengan air bersih, lalu ditimbang.
  • Cacing segar dijemur oleh panas matahari di atas seng dalam 24 jam (suhu udara 32 - 35 derajat celcius).
  • Cacing yang sudah kering kemudian dibuat menjadi tepung dengan menggunakan penggiling tepung.
  • Tepung cacing ditimbang dan siap untuk digunakan.
Untuk menjadikan pelet, bahan-bahan yang dipersiapkan adalah kuning telur ayam yang telah direbus, tepung kanji, terigu, dedak, tepung cacing, masing-masing ditimbang sesuai dengan analisis bahan.

Langkah-langkah pembuatan pelet ikan sebagai berikut :

  1. Semua bahan dicampur dan diaduk menjadi satu.
  2. Tambahkan air hangat secukupnya hingga adonan menjadi cukup kenyal. Penggunaan air harap diperhatikan seminim mungkin penggunaannya.
  3. Setelah adonan terbentuk selanjutnya dicetak dengan mesin penggiling daging sehingga menghasilkan pelet basah yang panjangnya seperti mie.
  4. Pelet basah tersebut dipotong per 0,5 cm membentuk butiran- butiran.
  5. Setelah itu pelet dijemur di panas matahari seharian.
  6. Kemudian pelet ditimbang dan siap digunakan

Untuk memperoleh pelet dengan kandungan protein 35%, maka susunan ransumnya adalah:

  • Tepung Cacing 47%
  • Telur Ayam 20%
  • Terigu 14%
  • Dedak 18%
  • Kanji 1%


Sumber: Dinas Perikanan Propinsi DKI Jakarta, Brosur Informasi Proyek Peningkatan Diversifikasi Usaha Perikanan

Cara Memelihara Sidat Elver

Halali Sahri No comments
Senang membaca kesan kesan rekan rekan sidaters yg sudah mulai memelihara baik glass eel, elver dan fingerlingnya di aquarium, dan bak fiber, ataupun bak beton. Penting bagi rekan rekan sidaters, mengamati tingkah laku sidat di aquarium, bahkan sangat dianjurkan oleh Atsushi Usui pakar Biologi Sidat Jepang yg mengarang buku "Eel Culture". Sembari menggarap project, pengembangan budi daya sidat untuk target produksi 20 ton/tahun sebagai konsultan, saya sadur sifat sifat Elver (baby sidat) dari buku Eel Culture (Atshushi Usui) sbb:

Benih Ikan Sidat (Glass Eel-> Elver)
Usaha Budidaya Ikan Sidat masih tergantung total pada glass eel (juvenile) yang ditangkap oleh nelayan selama migrasinya dari laut ke sungai sungai air tawar, yang berhadapan dengan samudera raya. Glass Eel yang tranparan secara perlahan mengalami pigmentasi dan di sebut Elver. 

Sifat sifat dari Elver 
Pelihara elver dalam akuarium. Ini adalah saran yang baik untuk setiap pembudi daya sidat, karena dalam akuarium anda dapat secara nyata melihat apa yang dilakukan elver, apa yang disukai dan yang tidak disukainya, dan bagaimana tingkah lakunya. Setelah anda memelihara elver dalam akuarium akan didapat pengetahuan yang berguna untuk memperlakukan sejumlah besar elver yang akan anda budi dayakan di dalam bak, dimana tidak dapat melakukan observasi secara dekat. 

Elver yang baru ditangkap sampai dengan 4 hari 
Elver akan bersembunyi di celah celah, di bawah batu dan sebagainya, dan muncul pada waktu malam (ketika tertarik dengan adanya cahaya) juga tidak menunjukan ketertarikan pada makanan.

Hari ke 4 sampai dengan hari ke 10 
Elver sembunyi dalam celah-celah, dan menjadi berwarna abu-abu, dan mulai makan. Pakan terbaik adalah cacing tanah yang dilumatkan. Cacing tanah segar di lumatkan di blender, dan dibentuk pasta . Pertama kali pasta cacing ini dimasukan ke akuarium, tidak ada elver yang tertarik kecuali saat elver menabraknya dengan tidak sengaja. Ketika elver melakukannya maka dia mulai makan di dasar akuarium. Perlu waktu satu jam atau lebih bagi elver untuk makan, berikan pasta cacing satu kali sehari.

Hari ke 10 sampai dengan hari ke 20 
Elver akan menggunakan separuh dari waktunya berenang secara aktif, bersembunyi di celah-celah tumbuhan air atau mengubur dirinya di pasir, dengan hanya memunculkan kepalanya dari separuh waktunya yang lain. Warnanya makin bertambah gelap, tetapi perutnya agak lebih transparan. Setelah makan akan mudah terlihat makanan di perutnya. Berikan makan dua kali sehari jam 09:00 dan jam 17:00, dan tempatkan pasta di lokasi yang sama. 

Elver kemudian secara cepat mendeteksi adanya makanan, dan tertarik dengan bau amis, akan tetapi lambat menentukan lokasi dari pakan, karena arus air akan mendifusikan bau makanan ke seluruh aquarium, elvers akn segera berenang menjelajah di dasar kolam. Elver menentukan lokasi pakannya sepenuhnya dengan indera penciuman (eel yang buta yang ditempatkan di akuarium dapat hidup bertahun tahun) akan memakan pakan secara rakus jika mendapatkannya.

Hari ke 21 sampai dengan hari ke 30 
Elver akan tumbuh dan dapat terlihat beberapa tumbuh lebih cepat dari pada yang lainnya. Ia akan mulai terbiasa dengan rutinitas pemberian pakan, segera setelah pakan di letakan, dengan cepat sidat menciumnya dan secara rakus memakan pasta pakan. Dapat berlangsung dalam 10 menit. 

Setelah hari ke 30 
Jika elver bertahan sejauh ini berarti perlakuan yang dilakukan sudah tepat, dan dapat menjadi kesuksesan. Elver akan menjadi semakin rakus dan ada empat tanda penting yang mesti dimiliki. 
  • Usahakan air tetap bening seperti kristal. 
  • Berikan elver pakan sebisa dia makan, maka ia akan cepat tumbuh. 
  • Jangan biarkan kelebihan pakan jatuh dalam bak, karena ini akan meracuni air, dan menyebabkan penyakit. Pakan jangan dilemparkan ke air tetapi letakan pada wadah, dan lokasikan agak di bawah permukaan air. Jika elver sudah cukup makan maka sisa makanan dapat di angkat.
  • Pisahkan elver yang kurang cepat pertumbuhannya, tempatkan pada kelompok yang lambat pertumbuhannya, dan yang lain pada kelompok yang cepat pertumbuhannya. (Ariya Hendrawan)

Pengendalian Hama Dan Penyakit Ikan Sidat

Halali Sahri , No comments
Selama kegiatan budidaya ikan sidat terdapat beberapa gangguan kesehatan pada ikan sidat antara lain hama dan penyakit yang memerlukan pengendalian sebagai berikut.

1. Hama
Menurut Liviawaty dan Afrianto (1998), hama ikan sidat yaitu organisme yang berukuran besar yang mampu menimbulkan gangguan atau memakan ikan sidat. Hama dapat berperan sebagai predator yang bersifat memangsa terutama pada stadia glass eel. Ada juga yang sifatnya sebagai kompetitor yang bisa menimbulkan persaingan dalam mendapatkan oksigen, pakan dan ruang gerak.

2. Penyakit.
2.1. Penyakit parasitik
Penyakit parasitik adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme parasit yang dapat menimbulkan penyakit seperti virus, bakteri, jamur, protozoa, golongan cacing dan udang renik. Jenis penyakit parasitik yang menyerang ikan sidat berdasarkan jenis parasit yang menyerangnya antara lain :

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri
Bakteri adalah organisme satu sel yang mempunyai daerah penyebaran yang relatif luas sehingga hampir dapat dijumpai dimana saja. Bakteri mempunyai ukuran relatif besar daripada virus, yaitu 0.3 mikron – 0.5 mikron. Jenis penyakit pada ikan sidat yang disebabkan oleh bakteri diantaranya :

Aeromonas Disease
Penyebabnya adalah bakteri yang tergolong kedalam genus Aeromonas dan Paracolotrum. Menyerang bagian sirip sehingga sirip yang terkena penyakit ini akan mengembang. Penganganan ikan sidat yang terserang bakteri ini dapat dilakukan dengan senyawa sulfa, antibiotik atau senyawa furane yang dicampurkan terlebih dahulu ke dalam pakan.

Gill Disease
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang menyerang insang. Penyakit ini dapat menimbulkan kematian karena merusak bagian insang, sehingga menganggu sistem pernapasan. Penyakit ini dapat disembuhkan dengan melakukan perendaman kedalam methylene blue dan penambahan senyawa sulfa, furane atau senyawa kimia anti bakteri.

Red Disease
Penyebab penyakit ini adalah bakteri, yang menyerang pada ikan sidat dewasa.meyerang organ luar dan dalam seperti usus, hati dan ginjal. Bagian tubuh ikan sidat yang terkena penyakit ini menjadi kasar dan terlihat merah. Pengobatan ikan sidat yang terkena penyakit ini dapat diobati dengan melakukan kedalam malachit green atau methylene blue dan penambahan senyawa sulfa, furane atau senyawa kimia anti bakteri.

Penyakit yang disebabkan oleh virus
Virus adalah organisme penyebab penyakit yang sangat kecil karena memiliki ukuran tubuh antara 25 – 300 nanometer sehingga hanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop elektron. Aktivitas serangan virus yang bersifat akut menyebabkan kerusakan jaringan yang cukup luas dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang singkat. Penyakit ini menyerang pada insang dan ginjal ikan sidat. Tubuh ikan sidat yang terserang penyakit ini akan memendek (dehidrasi), densitas jarang meningkat dan jumlah garam tubuh menurun. Cara untuk mengobati penyakit ini dapat dilakukan dengan menambahkan garam ke dalam pakan.

Penyakit yang disebabkan oleh jamur
Jamur adalah mikroorganisme yang sering terlihat seperti benang yang tumbuh menyebar di bagian dalam atau luar tubuh ikan sidat. Jamur mempunyai ukuran lebih besar daripada bakteri sehingga lebih mudah dideteksi. Jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur yang menyerang ikan sidat adalah cotton cap atau water muould. Penyebab dari penyakit ini adalah jamur Saprolegnia parsitica, yang biasanya banyak menyerang ikan sidat yang berukuran fingerling dan dewasa. Pengobatan ikan sidat yang sudah terserang penyakit ini dilakukan dengan cara perendaman kedalam larutan methylene blue 2 ppm selama 4 hari dengan masa istirahat 10 hari.

Penyakit yang disebabkan oleh protozoa
Beberapa jenis penyakit pada ikan sidat yang disebabkan oleh protozoa adalah sebagai berikut :

White Spot Disease.
Penyakit ini disebabkan oleh Ichthyophthrius multilifis yaitu jenis protozoa yang sering menyerang pada ikan, baik ikan hias ataupun ikan konsumsi. Sidat yang terserang protozoa ini akan terlihat bintik-bintik putih yang berdiameter 0.5 – 1 mm. Bagian tubuh ikan sidat yang terserang penyakit ini adalah pada bagian sirip, tutup insang dan ekor. Pengobatan yang paling efektif untuk memberantas patogen ini adalah pada fase kista atau post kista. Jenis obat yang dapat digunakan untuk memberantas jenis protozoa ini antara lain garam dapur (NaCl), methylene blue, formalin dan larutan kina.

Myxidium Disease
Penyebaran penyakit ini adalah dengan spora. Spora protozoa ini akan menimbulkan bulatan putih pada permukaan kulit ikan sidat yang terserang. Sejauh ini belum ditemukan cara untuk mengobati penyakit ini, apabila dalam kolam terdapat sidat yang telah terserang penyakit ini sebaiknya langsung dibuang.

Cripple Body Disease
Penyakit ini disebabkan oleh patogen Plisthopora yang termasuk protozoa. Jenis protozoa ini menyerang sistem jaringan sehingga menyebabkan tubuh ikan sidat yang terserang menjadi mengerut. Ikan sidat muda yang warna kulit tubuhnya putih susu dapat diindikasikan bahwa sidat tersebut telah terserang oleh protozoa jenis ini. Cara mengobati penyakit yang disebabkan protozoa ini belum ada, apabila pada kolam pemeliharaan ditemukan ikan sidat yang terserang sebaiknya langsung dibuang.

Penyakit yang disebabkan oleh Nematoda
Salah satu nematoda yang menyerang ikan sidat adalah Anguillicola grobiceps. Nematoda ini menyerang gelembung renang ikan sidat. Ikan sidat yang terinfeksi akan mengalami luka-luka dan borok. Perlakuan yang efektif untuk memberantas patogen ini masih belum ada, kecuali jika nematoda muda keluar dari gelembung renang menuju kolam, mereka tidak tahan terhadap formalin.

Penyakit yang disebabkan oleh Copepoda
Copepoda adalah jenis parasit yang biasa menyerang ikan sidat pada bagian luar Anchor Worm Disease. Copepoda yang menyebabkan penyakit ini adalah Lernea cyprinaceae. Menyerang bagian hidung dan mulut ikan sidat. Patogen ini dapat menyebabkan luka dan borok sehingga akan mengurangi kemampuan ikan sidat untuk makan. Pengobatan ikan sidat yang terserang cacing jangkar ini dapat dilakukan dengan merendamnya dalam larutan bromex 0.12 – 0.15 ppm atau larutan dipterex 0.25 ppm selama 4 – 6 jam. Perendaman dapat dilakukan dalam larutan Kliuj Permanganat (PK) tapi dosis penggunaan PK ini sedikit lebih rendah dari konsentrasi lethal bagi sidat, sehingga penggunaan PK jarang dilakukan.

Plistophora
Plistophora anguilarum merupakan parasit mikrosporidium yang menyerang otot ikan sidat. Patogen ini masuk melalui kulit dan masuk ke bagian otot kemudian membuat kista. Penyakit ini akan menyebabkan pertumbuhan terhenti dan permukaan tubuhnya tidak rata. Sampai dengan saat ini, belum ada perlakuan yang efektif untuk mengobati ikan sidat yang terserang penyakit ini, karena spora parasit ini memiliki dinding yang tebal sehingga bahan kimia tidak mampu menembusnya.

Cauliflower Disease
Penyakit ini akan membentuk tumor terutama pada bagian hidung dan mulut, sehingga mengganggu aktivitas ikan sidat terutama pada saat mencari makan. Belum ada cara pengobatan untuk jenis penyakit ini karena patogen penyebabnya pun sampai saat ini belum diketahui.

2.2. Penyakit non parasitik
Penyakit non parasitik adalah penyakit yang bukan disebabkna oleh hama ataupun organisme parasit. Penyakit non parasitik yang menimpa ikan sidat diantaranya disebabkan oleh :

Faktor lingkungan yang kurang menunjang bagi kehidupan ikan sidat.
Faktor lingkungan tersebut antara lain : pH air yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, kandungan oksigen yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, fluktuasi suhu yang terlalu tinggi dan perubahan mendadak serta adanya polutan.

Kualitas pakan
Pakan yang diberikan kurang baik (malnutrisi) anatara lain: kekurangan vitamin, gizinya terlalu rendah, kualitas bahan baku pakan yang jelek.

Turunan, antara lain kelainan fisik yang sudah ada sejak lahir.
Salah satu penyakit non parasitik yang sering dialami pada pemeliharaan ikan sidat adalah deplesi oksigen. Pengaruh dari deplesi oksigen terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Konsentrasi oksigen terlarut pada kolam rendah, ikan sidat akan mengalami stress sehingga mudah diserang oleh patogen lain. Kejadian ini biasanya terjadi pada saat malam hari karena konsentrasi oksigen terlarut dalam air dipengaruhi oleh fotosintesis, respirasi dan proses difusi. Kegiatan fotosintesis terjadi pada siang hari dan proses respirasi akan menghasilkan karbondioksida sehingga pada malam hari konsentrasi oksigen terlarutnya rendah. Cara untuk memecahkan masalah kekurangan oksigen ini adalah membantu menambahkan adanya proses difusi yang dapat dilakukan dengan pemasangan kincir.

PENGENALAN PENYAKIT PADA IKAN SIDAT

Halali Sahri No comments
Berikut artikel yang bisa menjadi informasi bagi rekan-rekan peternak sidat, tentang penyakit sidat, 

Penyakit yang seringkali menyerang ikan sidat dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yakni penyakit menular yang sering disebut parasit, disebabkan oleh aktivitas mikro organisme seperti bakteri jamur, virus dan protozoa. Lalu yang kedua adalah penyakit yang tidak menular, yaitu penyakit yang bukan disebabkan oleh mikro organisme, tetapi disebabkan hal lainn misal karena kekurangan pakan, keracunan konsentrasi oksigen dalam air rendah atau penyakit gelembung udara.

Dapat dikatakan bahwa penyebab langsung dari kebanyakan penyakit pada ikan sidat adalah parasit-parasit termasuk virus-virus, bakteri, jamur, dan protozoa. Penularannya semakin mudah di dalam kelompok ikan yang padat dibanding dengan di alam bebas.

Sebagai akibatnya, penyebaran penyakit yang lebih luas dapat ditemukan pada kolam budidaya sidat atau keramba . Banyak parasit, terutama yang termasuk golongan sistematika rendah tersebar luas, dan biasanya terdapat di dalam biotop atau bahkan juga di dalam tubuh ikan tanpa menyebabkan kondisi patologis.

Bakteri seperti aeromonas hydrophilla, Flexibacter columnaris, Pseudomonas flurescens ataupun Vibrio anguilarum dikatakan bersifat saprofitis dan terdapat di mana-mana (ubiquitous). Akan tetapi, dalam kondisi tertekan, bakteri tersebut dikenal sebagai penyebab penyakit, seperti haemorragic septicaemia, penyakit busuk insang (bacterial gill disease), pembusukan sirip (fin rot) dan vibriosis.

Salah satu penyebab penyakit pada sidat adalah bakteri, bakteri mempunyai daerah penyebaran relative luas sehingga hampir dapat dijumpai dimana saja. Bakteri mempunyai ukuran yang relative besar jika di bandingkan dengan virus, yaitu antara 0,3 sampai 0,5 mikron. Cara mencegah infeksi oleh bakteri adalah mengusahakan kualitas air dan lingkungan bebas dari polusi racun atau bahan kimia yang berbahaya, oksigen dalam lingkungan tetap terpenuhi, dan mencegah masuknya parasit eksternal maupun internal.

Sidat yang terkena infeksi fin rot akan kehilangan nafsu makan dan gerakan berenangnya mulai tidak teratur yang akhirnya ia akan muncul dan berenang di permukaan air. Sidat yang terserang secara eksternal akan mengalami pendarahan yang selanjutnya menjadi borok (haemorrhage) pada sirip perut dan ekor serta bagian anus. Secara internal usus dan lambung mengalami hyperemia yang akhirnya terkikis. Hati sidat yang terserang penyakit ini menjadi tidak berfungsi. Pada serangan lebih lanjut rahang bawah akan mengalami luka dan borok. Infeksi sekunder dapat terjadi jika sidat terserang oleh cotton cap.

Bakteri pathogen yang menyebabkan penyakit ini adalah Aeromonas liquefaciens yang menyerang organism sidat di air tawar dan biasanya menyerang pada suhu air 280C. Bakteri Aeromonas umumnya hidup di air tawar terutama yang mengandung bahan organic tinggi. Ada juga yang berpendapat bahwa bakteri ini hidup di saluran pencernaan. Ciri utama bekteri Aeromonas adalah bentuk seperti batang, ukuran 1-4,4 x 0,4-1 mikron, bersifat gram negative, fakultatif aerobic (dapat hidup dengan atau tanpa oksigen), tidak berspora, bersifat motil (bergerak aktif) karena mempunyai satu flagel(monotrichous flagella) yang keluar dari salah satu kutubnya. Penyakit ini senang hidup di lingkungan bersuhu 15 0C-30 0C dan pH 5,5 – 9.

Penularan bakteri Aeromonas dapat terjadi melalui air, kontak badan kontak dengan peralatan yang telah tercemaratau perpindahan sidat yang telah terserang Aeromonas dari satu tempat ke tempat lain. Salah satu penanganan terhadap serangan pathogen ini adalah dengan membuang sidat yang telah terinfeksi supaya tidak menyebar kepada sidat lainnya. Cara lain mengatasi penyakit ini adalah dengan menambahkan air tawar yang bersih untuk menurunkan suhu air kolam.

Pengobatan dapat dilakukan dengan thiazine tang diberikan melaluai pakan dengan dosis 20 mg per hari untuk sidat seberaty 100g. pemberian dilakukan secara terus menerus selama satu minggu. Sidat yang terinfeksi juga dapat diobati dengan cara merendam dalam obat furam atau sulpha.

Sumber : http://www.sidatonline.com/

Korsel Tertarik Investasi Budidaya Sidat di Indonesia

Halali Sahri No comments
Korea Selatan berencana berinvestasi di Indonesia untuk mengembangkan komoditas ikan sidat. Kepala Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sarifin, mengatakan investasi itu bernilai sekitar Rp 5 miliar.

Dalam merespons rencana Korea ini, Sarifin telah menawarkan dua opsi kepada Korea. Sebab, lahan yang akan digunakan untuk budidaya ikan sidat itu merupakan milik pemerintah. Dia mengatakan, berdasarkan peraturan terdapat dua opsi, yakni pembagian persentase dan penyewaan lahan.

“Saya ambil opsi sewa. Karena kalau mereka tidak sukses, negara sudah diuntungkan dengan harga sewa lahan sekian ratus juta,” katanya kepada Tempo, Ahad, 24 November 2013.

Sidat sangat diminati pasar internasional, terutama Korea, Jepang, Taiwan, dan Cina. Permintaan sidat di pasaran internasional bisa mencapai 300 ribu ton per tahun.

Sarifin menuturkan, jika kerja sama ini berjalan, Indonesia bisa mendapatkan keuntungan, yaitu ikan sidat bisa dikembangkan di Indonesia dengan baik. Keuntungan lainnya adalah dapat terjadi transfer teknologi mengenai budidaya, pemberian pakan dan lainnya. Sehingga terjadi pula transfer ilmu pengetahuan mengenai budidaya ikan sidat.

Namun, Sarifin belum bisa menyebutkan volume produksi ikan sidat. Kerja sama investasi budidaya ikan sidat ini adalah yang pertama kali untuk jenis ikan budi daya tersebut.

Pengembangan komoditi ikan sidat hingga saat ini masih terhambat karena belum ada teknologi untuk pemijahan (pengawinan). Keterbatasan ini menyebabkan harga sidat di pasaran menjadi cukup tinggi. Ikan sidat mengandung gizi yang tinggi berupa vitamin A, kandungan EPA rata-rata lebih tinggi. Kandungan DHA ikan sidat 1.337 miligram per 100 gram. (Sumber : Tempo)

Berkah dari Budidaya Ikan Sidat

Halali Sahri No comments

Oleh BM LUKITA GRAHADYARINI

Ikan sidat atau unagi banyak dikonsumsi sebagai makanan mewah di Jepang, Hongkong, dan Korea karena kandungan tinggi protein dan omega-3 yang berkhasiat untuk kesehatan tubuh. Namun, benih ikan sidat yang banyak di perairan Indonesia belum banyak dimanfaatkan di negeri sendiri.

Di Indonesia, paling sedikit ada enam jenis ikan sidat (Anguilla sp), yaitu Anguilla marmorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor, dan Anguilla bicolor pacifica.

Melihat peluang pasar yang besar, Syaiful Hanif (32) dan sepuluh rekannya yang tergabung dalam Paguyuban Patra Gesit di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mulai menjajaki usaha budidaya ikan sidat pada akhir tahun 2008.

Teknik pembesaran ikan sidat awalnya dipelajari Syaiful di Balai Layanan Umum Pandu Karawang, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Segmentasi ikan sidat bicolor dipilih dengan benih yang didapat dari hasil tangkapan alam.

Bermodal sedikit pengalaman, paguyuban yang dipimpin Syaiful itu lantas mengajukan kredit lunak pada Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PT Pertamina Tbk Rp 1,2 miliar untuk jangka waktu 3 tahun.

Kemudian, dana sebesar itu digunakan untuk membeli lahan seluas 2 hektar di Desa Lamaran Tarum, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu.

Selain itu, dana itu untuk membangun 10 petak kolam ikan berukuran masing-masing 20 x 30 meter persegi, pembelian benih ikan sidat, serta persiapan sarana dan prasarana produksi. Di antaranya peralatan diesel mengingat di wilayah itu belum ada jaringan listrik yang memadai.

Setelah lahan disiapkan, Syaiful dan rekan-rekannya mencoba mempraktikkan pembesaran ikan sidat bicolor di lahan mereka. Namun, usaha pembesaran ikan sidat bicolor ternyata tidak mudah. Bicolor yang biasa hidup di arus pertemuan air sungai dan air laut sulit beradaptasi di kolam air tawar.

Negara tujuan ekspor

Ikan sidat adalah jenis karnivora (pemakan ikan) yang memiliki sifat katadromos, yaitu awalnya berkembang biak di laut dan selanjutnya mencari perairan umum (air tawar) untuk membesarkan diri.

Sifat itu membuat ikan sidat sulit beradaptasi dan mengubah pola makan di habitat baru kolam air tawar. Tingkat pertumbuhan ikan bicolor juga tidak merata karena ukuran benih yang ditebar tidak seragam. Usaha mereka pun berada di ambang kehancuran.

Namun, Syaiful tidak menyerah. Ia lantas menekuni riset pembesaran ikan sidat selama hampir setahun. Proses aklimatisasi diterapkan berupa penyesuaian lingkungan, temperatur, serta sortir benih ikan sebelum disimpan di kolam.

Dengan perlakuan khusus, ikan sidat bicolor yang biasanya makan ikan lain itu berubah kebiasaan menjadi rakus makan pelet. Berpijak dari hasil riset tersebut, Syaiful dan teman-temannya melanjutkan usaha. Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung beralih dengan membidik segmentasi ikan sidat marmorata yang permintaan dan harganya di pasar internasional jauh lebih tinggi.

Ikan sidat marmorata terbukti tumbuh subur dengan tingkat hidup (SR) 80 persen. Jika dalam kurun 6 bulan pertumbuhan benih sidat hanya dari ukuran 0,2 gram menjadi 40 gram per ekor, dalam bulan ke-7 sampai ke-10 benih tumbuh pesat dari ukuran 40 gram ke 1 kilogram (kg) per ekor.

Pada panen perdana bulan Januari 2010, paguyuban itu menghasilkan panen sidat sebanyak 500 kg dan seluruhnya diekspor. Ekspor ikan hidup dengan bobot lebih dari 500 gram per ekor, harga jualnya berkisar Rp 120.000-Rp 160.000 per kg. Harganya akan semakin mahal jika bobot ikan lebih dari 1 kg per ekor, yakni Rp 120.000-Rp 180.000 per kg.

Pasar utama ekspor ikan sidat adalah Hongkong, China, dan Taiwan. ”Minat pasar ekspor yang tinggi terhadap ikan sidat membuat hasil produksi selalu terserap pasar, berapa pun jumlahnya,” ungkap Syaiful.

Ia mengakui tidak sulit mencari benih ikan. Beberapa kawasan perairan yang banyak terdapat benih ikan sidat di antaranya di pesisir Sumatera bagian barat, Sulawesi, dan pantai selatan Jawa yang berbatasan dengan laut dalam. Harga benih sidat marmorata Rp 120.000 per kg dengan ukuran benih 25 gram per ekor.

Sayangnya, seiring maraknya permintaan di pasar internasional, penyelundupan benih ikan sidat ke negara lain terus terjadi, di antaranya ke Jepang.

Penyelundupan di beberapa tempat itu mendongkrak harga benih marmorata hingga mencapai Rp 2,5 juta per kg.

Syaiful mengaku khawatir, dengan teknologi budidaya sidat di Tanah Air yang belum berkembang luas, bukan tidak mungkin masyarakat Jepang kelak akan mencuri start dalam pembudidayaan ikan sidat secara luas.

”Indonesia adalah negeri produsen benih ikan yang besar dan kaya. Tetapi, jika potensi itu tidak dimanfaatkan optimal, bisa dipastikan rakyat Indonesia sulit memperoleh nilai tambah dari perikanan,” ujar pria yang sebelumnya menekuni bisnis penjualan pulsa itu.

Salah satu ambisinya dalam waktu dekat adalah memperluas pemasaran ikan sidat ke pasar-pasar dalam negeri. ”Kalau pasar ekspor dengan mudah bisa ditembus, kenapa pasar dalam negeri justru tidak melihat potensi ini,” papar Syaiful.

Ia menargetkan produksi ikan sidat pada panen kedua bulan Juli 2010 bisa mencapai 1 ton. Ia pun berencana memberdayakan masyarakat sekitar dengan menularkan teknik pembesaran ikan sidat ke warga Indramayu.

Caranya, melepas benih ikan sidat berukuran 100 gram kepada warga untuk dibesarkan sampai ukuran 500 gram, kemudian ditampung kembali untuk dipasarkan.

Pria lulusan politeknik Jurusan Mesin ITB angkatan 1996 ini berharap pemerintah memiliki regulasi yang tegas untuk mengembangkan benih ikan sidat, memperluas teknologi budidaya lewat pemberdayaan masyarakat, serta menekan penyelundupan benih yang merugikan perikanan budidaya.

Agar Kabayaki Diterima Pasar

Halali Sahri No comments
Pasar yang terbuka menuntut produksi kontinu dan bermutu tinggi. Bisakah terpenuhi?

Siapa tidak tergoda berbisnis Anguilla sp.? Ikan primadona air tawar itu begitu diminati pasar lokal dan mancanegara dalam bentuk segar ataupun olahan. Konsumen sidat utama dunia adalah Jepang.

Penduduk Negeri Sakura itu terbiasa mengonsumsi sidat panggang atau disebut unagi kabayaki. Menurut Syaiful Hanif, Chief Product Officer CV Humamoa, produsen unagi kabayaki di Banjarnegara, Jateng, Jepang membutuhkan sekitar 100 ribu ton sidat panggang dan hidup setiap tahun. “Sedangkan dari total unagi hanya sepertiganya dipenuhi oleh Jepang. Dua sepertiganya diimpor dari China dan Taiwan,” imbuh Syaiful.

Permintaan kabayaki di pasar lokal juga meningkat. Selama ini kebutuhan kabayaki untuk restoran Jepang dan Korea di kota-kota besar Indonesia diimpor langsung dari China dan Taiwan. Namun, sambung Syaiful, saat ini pengusaha kabayaki di China dan Taiwan lebih memilih ekspor ke Jepang lantaran harga jual yang lebih tinggi. Akibatnya, Indonesia kekurangan stok kabayaki. “Kebutuhan sidat panggang di Indonesia saja 20 ton/bulan. Artinya, 240 ton/tahun,” katanya. Jika dikonversi dalam bentuk bahan baku, membutuhkan sekitar 40 ton sidat.

Sementara itu, harga sidat siap konsumsi ukuran 200-250 gr/ekor berkisar Rp140 ribu – Rp150 ribu/kg. Harga kabayaki di pasar lokal lebih dari Rp500 ribu/kg. Harga jual sidat yang tinggi sayangnya tidak diimbangi dengan kualitas bahan baku premium. Pengetahuan menghasilkan sidat bertekstur daging lembut, empuk, tidak bau tanah, dan mengandung lemak yang cukup belum banyak diketahui pembudidaya. Bagaimana caranya?

Kualitas yang Diminta

Syaiful menuturkan, untuk membuat kabayaki harus menggunakan sidat yang gemuk. Sidat yang memanjang menandakan kekurangan nutrisi dalam tubuh. “Nah ketika di-fillet tulangnya gede. Dan ketika dipanggang, rendemennya lebih dari 60%, jadi daging utuhnya cuma 40%,” terangnya dalam acara Konferensi Akuakultur Indonesia 2013 di Solo, Jateng (3/9).

Sebelum melangkah ke budidaya sidat, pembudidaya harus mengetahui kualitas sidat yang diinginkan pasar. “Karena kita sudah biasa mengimpor sidat panggang dari Taiwan itu ukuran 180–200 gr/pak, maka sidat hidupnya kurang lebih 350-400 gr/ekor. Jadi rendemennya 45%,” ulas sambung lulusan Politeknik Jurusan Mesin ITB angkatan 1996 ini.

CV Humamoa sendiri sudah menjual kabayaki ke salah satu restoran Jepang di Bandung, Jabar sebanyak 300 kg/bulan. Setidaknya butuh waktu 5 bulan agar kabayaki buatan Syaiful diterima pasar. “Butuh 5 bulan bolak-balik. Terlalu keras, warnanya masih pucat, tangkainya terlalu strong atau sausnya terlalu strong. Karena itu ada sake jepang jadi kami bikin saos sendiri, kami mix sampai pas sesuai restoran,” urai pria kelahiran 8 Agustus 1977 ini.

Selain itu, pembudidaya juga harus mempelajari tingkah laku sidat. Misalnya, sidat ikan karnivora dengan protein sekitar 45%, hidup dalam kondisi bergerombol, 60% oksigennya dari permukaan kulit, bersifat kanibal dan dominasi. “Artinya, harus dilakukan grading,” timpal Syaiful.

Kolam Resirkulasi

Menurut Syaiful, segmentasi budidaya sidat terdiri dari pendederan I ukuran 0,16 – 5 gr selama 3 bulan, pendederan II ukuran 5 – 50 gr selama 3-4 bulan, dan pembesaran ukuran 51 – 350 gr selama 4-5 bulan. Budidaya sidat memerlukan air jernih sehingga ia pun menggunakan sumur air dalam sebagai sumber air. Wadah budidaya sidat berupa bak fiber berbentuk kotak, bulat, lonjong atau oktagonal, dan plastik high density polyethylene (HDPE). Saat ini ia tengah mencoba memelihara benih sidat ukuran 50 gr di bak fiber berbentuk oktagonal dengan padat tebar 20-40 kg/m3. “Satu bak diprediksi panen 200 kg,” bebernya.

Air dijalankan dengan sistem resirkulasi agar selalu mengalir mengikuti ritme hidup sidat yang menyukai aliran air. Selain itu, sistem resirkulasi juga menghemat penggunaan air dan lahan budidaya, kualitas air terkontrol dengan baik sehingga mempercepat laju pertumbuhan sidat dan tidak terpengaruh perubahan lingkungan. Yang paling penting, ungkap Syaiful, “Sidat yang dihasilkan higienis, tekstur dagingnya empuk dan lembut, tidak berbau tanah, serta memiliki lemak yang cukup.”   

Salah satu ilmu yang harus dikuasai dalam budidaya sidat adalah mengubah pakan sidat dari pakan alami berupa ikan, udang, kepiting, atau hewan air menjadi pellet. “Kami menggunakan cacing lumbricus. Menggunakan cacing pada pakan kemudian pelan-pelan cacingnya itu tidak digunakan sama sekali,” ungkap dia. Syaiful memanfaatkan pakan pellet kakap keluaran Japfa Comfeed dengan kadar protein 45%. 

Pakan ini hanya mengandung 12% lemak, sementara kebutuhan lemak untuk sidat panggang mencapai 21%. Syaiful pun punya trik jitu. Tiga minggu sebelum panen sidat, ia menambahkan lemak dari minyak jagung atau minyak ikan. Mau mencoba?

Windi Listianingsih sumber

Cuaca Tak Menentu, Petani Ikan Waspada KHV

Halali Sahri No comments

Kondisi cuaca yang tak menentu belakangan ini berpotensi terjadinya serangan penyakit koi herpes virus (KHV) terhadap ikan di perairan Waduk Cirata wilayah Cianjur. Rata-rata, jenis ikan yang rentan diserang virus tersebut adalah ikan mas karena masih satu species dengan ikan koi.

Kepala UPTD Jangari Kabupaten Cianjur Ade tak menampik jika kondisi cuaca saat ini tergolong ekstrem. Kondisi cuaca saat ini dirasakan sangat berpengaruh terhadap daya tahan ikan.

“Ketika cuaca begitu panas, dampaknya nafsu makan ikan akan berkurang. Kondisi ini berpengaruh terhadap pertumbuhan dan daya tahan ikan, sehingga mudah terserang penyakit,” kata Ade, Kamis (20/3/2014).

Menurut Ade, kondisi cuaca seperti itu sangat rentan terjadinya serangan KHV. Serangan itu seolah menjadi langganan bagi para pembudi daya ikan di perairan Waduk Cirata wilayah Cianjur. Dipastikan dalam setiap tahunnya ketika kondisi cuaca berfluktuasi seperti itu serangan KHV akan mengganas.

“Serangan KHV yang terbaru sekitar bulan Januari-Februari 2014. Saat itu KHV menyerang wilayah perairan Cianjur. Rata-rata, kematian massal ikan di setiap kolam sekitar 5 kilogram,” paparnya.

Untuk mengantisipasi serangan KHV dan memperkuat daya tahan ikan, menurut Ade, harus rutin dilakukan pemberian vitamin C. Namun asupannya jangan terlalu keseringan karena bisa jadi akan berdampak jelek.

“Tinggal diatur saja pemberian vitamin C-nya. Hanya jangan terlalu sering, takutnya nanti akan berdampak buruk terhadap kondisi ikan,” tuturnya.

Selain serangan KHV, yang cukup diwaspadai juga adalah upwelling. Namun biasanya upwelling terjadi di akhir tahun atau pada awal-awal pergantian musim.

“Sebetulnya sekarang para pembudi daya ikan sudah tahu menyiasati jika akan ada
serangan-serangan terhadap ikan. Jadi tidak terlalu khawatir karena para petani pembudi daya ikan sudah bisa menyikapinya,” ucap Ade.

Budi daya ikan air tawar di perairan Waduk Cirata wilayah Cianjur rata-rata menghasilkan sekitar 105-120 ton per hari. Produksi terbesar didominasi ikan mas sekitar 35 persen.

“Produksi ikan sebesar itu berasal dari 9 wilayah pendaratan ikan yang tersebar di berbagi tempat yakni Perairan Maleber, Perairan Ciputri, Perairan Jangari, Perairan Leuwi Orok 1 dan 2, Perairan Kebon Cokelat, Perairan Nusa Dua, Perairan Calingcing, Perairan Babakan Garut, dan Perairan Pangguyangan. Hanya yang terbesar memang berasal dari Jangari,” katanya.

“Selain ikan mas dengan jumlah produksi hampir 35 persen, ada juga ikan bawal sebesar 30 persen, ikan nila 30 persen, dan beragam ikan lainnya seperti patin, lele, gurame, maupun nilem sebesar 5 persen,” tandasnya.

Kepala Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Cianjur Djoni Rojali tak memungkiri jika produksi ikan air tawar di Kabupaten Cianjur sangat bagus. Malahan Djoni berani menyebutkan jika produksi ikan air tawar di Cianjur jadi ikon produsen bagi di Jawa Barat.

“Potensi perikanan di Cianjur memang sangat bagus. Kita punya perairan ikan laut di pesisir pantai selatan. Sedangkan ikan air tawar kita punya perairan Jangari dan sekitarnya,” kata Djoni. (Sumber : Inilah)

Ini Dia Kendala Budidaya Ikan Sidat

Halali Sahri No comments
Ikan sidat mempunyai banyak keistimewaan seperti kandungan omeganya tinggi, rendah kolesterol dan cita rasa dagingnya enak. Selain itu harga sidat ukuran konsumsi termasuk tinggi, bisa mencapai Rp 170.000/kilogram.

Hal demikian diungkap pelaku pembesaran ikan sidat asal Kebondalem, Tridadi, Sleman, Hanif Irfani, Minggu (9/2/2014). Lebih lanjut Hanif mengungkapkan, pemasaran sidat konsumsi cukup mudah, baik ditawarkan ke konsumen termasuk pemilik rumah-rumah makan maupun lewat internet.

“Hanya saja untuk mendapatkan bibit sidat tidak mudah, karena bibit sidat diperoleh dari tangkapan alam. Proses perkawinan induk sidat dan beranak di sungai-sungai mendekati laut,” jelas Hanif.

Bibit sidat yang pernah dibesarkan, lanjutnya, antara lain pernah diperoleh dari pengepul asal Cilacap, Jawa Tengah. Suatu saat pernah membeli 1050 ekor bibit sidat, namun setelah dibesarkan tinggal 76 ekor dan dijual laku Rp 1 juta lebih sedikit.

“Sebagian ada yang mati dan sebagian hilang. Ini termasuk kendala dalam membesarkan sidat. Bukti ada yang hilang pemancing-pemancing di sungai yang tidak jauh dari kolam pembesaran sidat kami, pernah mendapatkan ikan-ikan sidat,” paparnya.

Terpisah, Suradal pemilik warung makan spesial menu sidat di Sumberadi, Mlati, Sleman mengungkapkan, pernah mencoba dua kali membesarkan bibit-bibit sidat. Hanya saja harus menunggu minimal delapan bulan untuk memanen sidat ukuran konsumsi. Masih ditambah lagi banyak yang mati dan ia merasa rugi. Akhirnya, saat ini lebih mantap mengandalkan setoran sidat dari pengepul terutama dari Cilacap untuk memenuhi kebutuhan di warungnya.

“Di Cilacap sidat banyak ditemukan seperti di rawa-rawa maupun sungai-sungai kawasan hutan bakau. Jika ingin memesan masih wujud bibit pun, sebagian pengepul di sana akan menyanggupi,” jelasnya.

Ditambahkan, kolam untuk penampungan stok sidat perlu dilengkapi tempat persembunyian seperti pipa-pipa peralon maupun genteng-genteng. Airnya diusahakan selalu bening dan sirkulasi udaranya bagus. Ia biasa memberi pakan wujud ikan-ikan tombro masih kecil, keong maupun irisan usus ayam. Beberapa konsumen pun ada yang membeli sidat masih hidup, entah akan dikoleksi maupun dimasak sesuai selera pembeli. (Sumber : KR Jogja)

Syaiful Hanif Sukses Pembesaran Sidat

Halali Sahri No comments
Ikan sidat atau unagi banyak dikonsumsi sebagai makanan mewah di Jepang, Hongkong, dan Korea karena kandungan tinggi protein dan omega-3 yang berkhasiat untuk kesehatan tubuh. Namun, benih ikan sidat yang banyak di perairan Indonesia belum banyak dimanfaatkan di negeri sendiri.

Di Indonesia, paling sedikit ada enam jenis ikan sidat (Anguilla sp), yaitu Anguilla marmorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor, dan Anguilla bicolor pacifica.

Melihat peluang pasar yang besar, Syaiful Hanif (32) dan sepuluh rekannya yang tergabung dalam Paguyuban Patra Gesit di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mulai menjajaki usaha budidaya ikan sidat pada akhir tahun 2008.

Teknik pembesaran ikan sidat awalnya dipelajari Syaiful di Balai Layanan Umum Pandu Karawang, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Segmentasi ikan sidat bicolor dipilih dengan benih yang didapat dari hasil tangkapan alam.

Bermodal sedikit pengalaman, paguyuban yang dipimpin Syaiful itu lantas mengajukan kredit lunak pada Program Kemitraan dan Bina Lingkungan PT Pertamina Tbk Rp 1,2 miliar untuk jangka waktu 3 tahun.

Kemudian, dana sebesar itu digunakan untuk membeli lahan seluas 2 hektar di Desa Lamaran Tarum, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu.

Selain itu, dana itu untuk membangun 10 petak kolam ikan berukuran masing-masing 20 x 30 meter persegi, pembelian benih ikan sidat, serta persiapan sarana dan prasarana produksi. Di antaranya peralatan diesel mengingat di wilayah itu belum ada jaringan listrik yang memadai.

Setelah lahan disiapkan, Syaiful dan rekan-rekannya mencoba mempraktikkan pembesaran ikan sidat bicolor di lahan mereka. Namun, usaha pembesaran ikan sidat bicolor ternyata tidak mudah. Bicolor yang biasa hidup di arus pertemuan air sungai dan air laut sulit beradaptasi di kolam air tawar.

Negara tujuan ekspor

Ikan sidat adalah jenis karnivora (pemakan ikan) yang memiliki sifat katadromos, yaitu awalnya berkembang biak di laut dan selanjutnya mencari perairan umum (air tawar) untuk membesarkan diri.

Sifat itu membuat ikan sidat sulit beradaptasi dan mengubah pola makan di habitat baru kolam air tawar. Tingkat pertumbuhan ikan bicolor juga tidak merata karena ukuran benih yang ditebar tidak seragam. Usaha mereka pun berada di ambang kehancuran.

Namun, Syaiful tidak menyerah. Ia lantas menekuni riset pembesaran ikan sidat selama hampir setahun. Proses aklimatisasi diterapkan berupa penyesuaian lingkungan, temperatur, serta sortir benih ikan sebelum disimpan di kolam.

Dengan perlakuan khusus, ikan sidat bicolor yang biasanya makan ikan lain itu berubah kebiasaan menjadi rakus makan pelet. Berpijak dari hasil riset tersebut, Syaiful dan teman-temannya melanjutkan usaha. Tidak tanggung-tanggung, mereka langsung beralih dengan membidik segmentasi ikan sidat marmorata yang permintaan dan harganya di pasar internasional jauh lebih tinggi.

Ikan sidat marmorata terbukti tumbuh subur dengan tingkat hidup (SR) 80 persen. Jika dalam kurun 6 bulan pertumbuhan benih sidat hanya dari ukuran 0,2 gram menjadi 40 gram per ekor, dalam bulan ke-7 sampai ke-10 benih tumbuh pesat dari ukuran 40 gram ke 1 kilogram (kg) per ekor.

Pada panen perdana bulan Januari 2010, paguyuban itu menghasilkan panen sidat sebanyak 500 kg dan seluruhnya diekspor. Ekspor ikan hidup dengan bobot lebih dari 500 gram per ekor, harga jualnya berkisar Rp 120.000-Rp 160.000 per kg. Harganya akan semakin mahal jika bobot ikan lebih dari 1 kg per ekor, yakni Rp 120.000-Rp 180.000 per kg.

Pasar utama ekspor ikan sidat adalah Hongkong, China, dan Taiwan. ”Minat pasar ekspor yang tinggi terhadap ikan sidat membuat hasil produksi selalu terserap pasar, berapa pun jumlahnya,” ungkap Syaiful.

Ia mengakui tidak sulit mencari benih ikan. Beberapa kawasan perairan yang banyak terdapat benih ikan sidat di antaranya di pesisir Sumatera bagian barat, Sulawesi, dan pantai selatan Jawa yang berbatasan dengan laut dalam. Harga benih sidat marmorata Rp 120.000 per kg dengan ukuran benih 25 gram per ekor.

Sayangnya, seiring maraknya permintaan di pasar internasional, penyelundupan benih ikan sidat ke negara lain terus terjadi, di antaranya ke Jepang.

Penyelundupan di beberapa tempat itu mendongkrak harga benih marmorata hingga mencapai Rp 2,5 juta per kg.

Syaiful mengaku khawatir, dengan teknologi budidaya sidat di Tanah Air yang belum berkembang luas, bukan tidak mungkin masyarakat Jepang kelak akan mencuri start dalam pembudidayaan ikan sidat secara luas.

”Indonesia adalah negeri produsen benih ikan yang besar dan kaya. Tetapi, jika potensi itu tidak dimanfaatkan optimal, bisa dipastikan rakyat Indonesia sulit memperoleh nilai tambah dari perikanan,” ujar pria yang sebelumnya menekuni bisnis penjualan pulsa itu.

Salah satu ambisinya dalam waktu dekat adalah memperluas pemasaran ikan sidat ke pasar-pasar dalam negeri. ”Kalau pasar ekspor dengan mudah bisa ditembus, kenapa pasar dalam negeri justru tidak melihat potensi ini,” papar Syaiful.

Ia menargetkan produksi ikan sidat pada panen kedua bulan Juli 2010 bisa mencapai 1 ton. Ia pun berencana memberdayakan masyarakat sekitar dengan menularkan teknik pembesaran ikan sidat ke warga Indramayu.

Caranya, melepas benih ikan sidat berukuran 100 gram kepada warga untuk dibesarkan sampai ukuran 500 gram, kemudian ditampung kembali untuk dipasarkan.

Pria lulusan politeknik Jurusan Mesin ITB angkatan 1996 ini berharap pemerintah memiliki regulasi yang tegas untuk mengembangkan benih ikan sidat, memperluas teknologi budidaya lewat pemberdayaan masyarakat, serta menekan penyelundupan benih yang merugikan perikanan budidaya. (kompas)

Foto-foto benih sidat

Halali Sahri No comments

Cara Membuat Pakan Sidat

Halali Sahri No comments
Pakan merupakan salah satu faktor penting yang sangat berpengaruh dalam kita berbudidaya ikan sidat karena mengacu pada pertumbuhan dan perkembangan sidat itu sendiri, baik buruk dan cepat lambatnya pertumbuhan ikan sidat sangat bergantung pada faktor pakan. Pakan yang baik juga harus mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan sidat yaitu berupa protein yang tinggi, lemak, vitamin dan lain sebagainya.

Protein yang tinggi sangat bagus untuk perkembangan ikan sidat, untuk sidat glass eel (starter) dibutuhkan protein sekitar 50-55% sedangkan untuk fingerling sampai konsumsi (grower) membutuhkan  sekitar 45-50% protein.

Langsung saja untuk pembuatan pasta ikan sidat kita membutuhkan hal-hal berikut ini :
Bahan-bahan
Pellet udang (bubuk) atau pellet kakap/kerapu atau pellet 781-1
Daging udang atau daging lele atau daging nila atau daging keong atau ebi
Bawang putih atau buah jeruk atau jahe
Cacing sutra atau cacing tanah atau cacing lumbricus luberus
Perekat
- Tepung Tapioka atau Tepung agar-agar atau hungkwe

Cara Pembuatan Pasta Ikan Sidat

Haluskan pellet kakap atau kerapu atau pellet 781-1 menggunakan gilingan atau lebih mudah menggunakan blender hingga berbentuk bubuk, haluskan juga daging udang atau keong atau ebi masih menggunakan blender. haluskan jahe atau kunyitnya agar nanti mudah mencampurnya.

setelah semua bahan dihaluskan dari no 1-3 aduk dan campurkan hingga rata kemudian tambahkan cacing sutra atau cacing darah atau cacing tanahnya. jika sudah tercapur seluruh bahan dengan rata tinggal kita tambahkan perekatnya agar bahan tidak mudah larut dalam air dan tidak merusak kondisi air karena tercemar oleh larutan pakan yang tidak termakan oleh sidat.

Setelah semua bahan dan perekatnya tercampur kita bisa langsung menyajikannya kepada ikan sidat kesayangan kita, atau agar bahan lebih baik lagi bisa dikukus terlebih dahulu agar lebih merekat lagi.

Entries RSS Comments RSS

Copyright © Info Sidat Bagus
Powered by Blogger
Design by N.Design Studio
Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com